Ponorogo — Di tengah arus informasi yang kian deras dan serba instan, Perpustakaan Darussalam Gontor kembali meneguhkan posisinya sebagai ruang perawatan tradisi keilmuan. Pada Rabu (28/1/2026), perpustakaan ini tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, melainkan menjelma sebagai ruang perjumpaan gagasan melalui penyelenggaraan Kursus Kemahiran Membaca dan Menulis bertema “Membangun Literasi dengan Pandangan Hidup Islam”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WIB ini diikuti oleh para santri dan pegiat literasi yang memiliki kegelisahan intelektual serupa: bagaimana membaca dan menulis tetap bernilai, beradab, dan berorientasi kebenaran di tengah perubahan zaman.
Kursus ini menghadirkan Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag., M.Pd., Alumni KMI Gontor 2014 yang kini dikenal sebagai penulis dan penggerak literasi di Alfuwisdom Publishing. Dalam paparannya, Alvin tidak langsung berbicara tentang teknik membaca cepat atau kiat menulis populer. Ia justru mengajak peserta kembali ke fondasi paling dasar peradaban literasi: Trivium.
Trivium—yang terdiri atas grammar, logic, dan rhetoric—diperkenalkan sebagai kerangka pembentukan nalar manusia agar mampu memahami realitas secara utuh. Grammar dipahami bukan semata tata bahasa, melainkan kemampuan mengenali simbol, struktur, dan makna bahasa. Logic berfungsi sebagai perangkat menimbang, menguji, dan menyusun kebenaran secara rasional. Sementara rhetoric menjadi seni menyampaikan gagasan secara tepat, bertanggung jawab, dan beradab. Dalam pandangan Alvin, ketiga unsur ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam proses membaca dan menulis yang bermakna.
“Tanpa fondasi Trivium, literasi mudah terjebak pada konsumsi teks semata. Membaca hanya menjadi aktivitas pasif, bukan proses pencarian makna yang berujung pada kesadaran,” ungkapnya di hadapan peserta.
Dari fondasi tersebut, pembahasan kemudian diarahkan pada bingkai yang lebih luas, yakni pandangan hidup Islam (ru’yat al-Islām li al-wujūd). Alvin menegaskan bahwa dalam Islam, membaca dan menulis tidak pernah netral nilai. Ia terikat pada tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah. Oleh karena itu, literasi menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis; ia membutuhkan al-mahārāt al-fanniyyah—keterampilan seni membaca dan menulis—yang dijalani sebagai bagian dari amanah ilmu (amānat al-‘ilm).
Dalam konteks ini, membaca bukan hanya aktivitas mata yang menyusuri baris teks, tetapi kerja akal dan jiwa untuk menangkap makna yang benar. Menulis pun tidak sekadar memindahkan gagasan ke dalam kata, melainkan proses pertanggungjawaban intelektual atas pengetahuan yang diperoleh. “Kemahiran membaca dan menulis adalah pintu masuk bagi taḥqīq al-‘ilm, pengilmuan yang benar. Agar makna tidak berhenti di teks, tetapi sampai ke dalam jiwa,” jelasnya.
Ia kemudian merujuk pada konsep klasik dalam khazanah intelektual Islam, yakni ḥuṣūl al-ma‘nā fī al-nafs (sampainya makna ke dalam jiwa) dan wuṣūl al-nafs ilā al-ma‘nā (sampainya jiwa kepada makna). Dua konsep ini menjadi penanda bahwa literasi sejati bersifat hidup dan transformatif. Membaca dan menulis yang demikian tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi membentuk sikap, cara pandang, dan kepekaan moral—sebuah laku yang oleh Alvin disebut sebagai Living Literacy.
Kursus ini, dengan demikian, diposisikan sebagai ikhtiar merawat tradisi Iqra’—perintah peradaban yang sejak awal meniscayakan keterpaduan antara ilmu, iman, dan adab (al-‘ilm wa al-īmān wa al-adab). Dalam kerangka ini, literasi berfungsi sebagai sarana ta’dīb, pembentukan manusia beradab, agar ilmu tidak tercerabut dari orientasi kebenaran dan kemaslahatan.
Melalui forum yang berlangsung dalam suasana dialogis ini, para peserta diajak menyadari bahwa budaya ilmu tidak mungkin tumbuh dari kebiasaan membaca dan menulis yang serba instan. Ia hanya dapat hidup jika literasi dijalani sebagai ‘ibādah ‘aqliyyah—ibadah intelektual—yang menghubungkan teks dengan konteks, serta pengetahuan dengan tanggung jawab moral. Membaca menjadi jalan tafakkur, dan menulis menjadi medium kesaksian intelektual atas kebenaran yang diyakini.
Akhirnya, kursus ini menegaskan satu pesan penting: kemahiran membaca dan menulis santri bukan semata ditujukan untuk produktivitas akademik, tetapi untuk menumbuhkan kepribadian intelektual yang utuh. Sebuah pribadi yang berpijak pada fondasi Trivium, berakar pada pandangan hidup Islam, dan berbuah pada adab. Di ruang sunyi perpustakaan itulah, tradisi Iqra’ dirawat—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai laku peradaban yang terus dihidupkan.
(Media Alfuwisdom Institute)

(Media Alfuwisdom Institute)