PURWOKERTO — Ada kalanya sebuah kota tidak hanya menjadi tempat orang datang dan pergi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan. Tempat gagasan saling menyapa, kegelisahan menemukan bahasa, dan harapan memperoleh panggungnya sendiri. Pada saat seperti itulah sebuah kota tidak lagi sekadar titik pada peta, melainkan menjadi simpul percakapan yang menghubungkan manusia dengan zamannya.
Juni 2026, Banyumas Internasional Literasi Festival (BIL FEST) tampaknya sedang menyiapkan peristiwa semacam itu.

Selama sepuluh hari, mulai 11 hingga 20 Juni 2026, Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) berikhtiar menghidupkan Purwokerto sebagai rumah bagi beragam percakapan penting. Dari literasi digital hingga sejarah lokal, dari isu lingkungan hidup hingga peluang pasar buku-buku internasional, dari tafsir agama hingga pembacaan ulang sejarah bangsa. Sebuah rentang tema yang memperlihatkan bahwa literasi tidak pernah sesempit aktivitas membaca dan menulis. Literasi adalah cara manusia memahami realitas, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Di tengah carut marut negeri ini tentang pengelolaan negara yang semrawut, festival ini hadir bukan sekadar sebagai agenda kebudayaan. Ia merupakan upaya menghadirkan ruang jeda, ruang refleksi, sekaligus ruang perjumpaan bagi masyarakat yang ingin melihat dunia melalui perspektif yang lebih luas.
Festival akan diawali pada Kamis, 11 Juni 2026, dengan tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan generasi masa kini. Di tengah kepungan algoritma media sosial, banjir informasi, dan tekanan psikologis yang lahir dari ruang digital, Koko Ganteng dan Fajrul Alam akan mengajak peserta merayakan kalimat sederhana: “Enggak Apa-Apa”. Sebuah diskusi yang berupaya mengubah keresahan digital menjadi narasi literasi yang menyembuhkan.
Pilihan tema pembuka ini terasa penting. Sebab hari-hari ini manusia tidak kekurangan informasi, tetapi sering kali kehilangan makna. Dunia digital mempercepat arus pengetahuan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan kecemasan baru. Karena itulah percakapan mengenai kesehatan mental, literasi digital, dan kemampuan memaknai kehidupan menjadi relevan untuk dibicarakan sejak hari pertama festival.
Malam harinya, festival akan dibuka melalui Selametan. Sebuah tradisi yang mengandung pesan mendalam bahwa pengetahuan tidak pernah lahir dari kehampaan. Ia tumbuh dari niat baik, dari kebersamaan, dan dari akar kebudayaan yang terus dirawat lintas generasi. Di tengah modernitas yang sering kali bergerak tanpa arah, selametan menjadi pengingat bahwa doa doa literasi dalam BIL FEST harus selalu dipanjatkan.
Memasuki hari kedua, Jumat, 12 Juni 2026, BIL Fest secara resmi dibuka melalui Opening Ceremony. Namun sebelum seremoni berlangsung, festival langsung memperlihatkan keberpihakannya pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Melalui diskusi bertajuk Solusi untuk Sampah! Kisah Inovasi yang Mengubah Cara Kita Melihat Sampah, Cahyono Perdana dan Ade Yulia akan mengajak publik memahami bahwa sampah bukan semata persoalan kebersihan, melainkan juga persoalan peradaban. Cara sebuah masyarakat memperlakukan sampah seringkali mencerminkan cara mereka memandang masa depan.
Di tengah meningkatnya krisis lingkungan dan persoalan pengelolaan limbah, diskusi ini menjadi penting karena menghadirkan perspektif bahwa perubahan besar dapat dimulai dari inovasi-inovasi sederhana yang tumbuh dari masyarakat.
Malam harinya, suasana akan bergeser ke ruang yang lebih kreatif melalui workshop English Masquerade. Melalui metode cerita dan drama, peserta diajak melihat bahwa belajar bahasa bukan sekadar menghafal kosakata, tetapi juga memahami budaya, membangun keberanian, dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
Sabtu, 13 Juni 2026, festival akan bergerak menuju akar-akar kebudayaan Banyumas. Gita Anggria Resticka dan Wanto Tirta akan mengajak peserta membaca ruang hidup dan kearifan lokal melalui lensa kebahasaan. Dari bahasa, masyarakat dapat memahami bagaimana identitas dibentuk, diwariskan, dan dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Namun BIL FEST tidak hanya menoleh ke masa lalu. Pada siang harinya, festival membuka jendela menuju dunia yang lebih luas melalui diskusi mengenai peluang karya Indonesia di pasar buku internasional bersama Thomas Nung dari Borobudur Agency. Diskusi ini menjadi momentum penting bagi para penulis, penerbit, dan pegiat literasi untuk memahami bahwa karya-karya Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk hadir dalam percakapan global.
Dari Banyumas, percakapan akan menjangkau dunia.
Pada sore hari, bedah buku Kantisae, temu penerbit, dan sesi berbagi pengalaman bersama penerima beasiswa LPDP semakin memperlihatkan bahwa literasi bukanlah aktivitas individual. Ia merupakan ekosistem yang mempertemukan penulis, pembaca, penerbit, akademisi, dan komunitas dalam satu lingkaran yang saling menguatkan.
Memasuki Minggu, 14 Juni 2026, festival akan mengajak peserta memasuki wilayah yang lebih reflektif. Melalui diskusi Seeing Religion Through Cultural Glasses, agama akan dibaca melalui perspektif budaya. Sebuah pendekatan yang penting di tengah masyarakat yang semakin beragam dan membutuhkan ruang dialog yang sehat.
Malam harinya, novel Nyi Sadikem akan dibedah melalui perspektif perempuan, trauma, dan perlawanan. Sastra kembali menunjukkan fungsinya sebagai cermin kehidupan. Ia tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga membantu manusia membaca ulang sejarah dari sudut pandang yang sering kali terpinggirkan.
Hari berikutnya, Senin, 15 Juni 2026, sejarah kembali memperoleh panggungnya. Namun bukan sejarah yang sering ditemukan dalam buku pelajaran. Melainkan sejarah yang hidup di meja makan masyarakat Banyumas.
Melalui kajian tentang mendoan, peserta diajak menelusuri perjalanan sosial masyarakat Banyumas pada rentang 1930 hingga 1960. Dari sepotong makanan sederhana, publik akan melihat bagaimana kebudayaan, ekonomi, dan identitas lokal saling bertaut.
Pada siang hari, pembahasan mengenai dokumentasi tradisi masyarakat Dompu mengingatkan pentingnya menjaga warisan yang tidak tertulis. Sebab banyak kebudayaan hilang bukan karena tidak bernilai, melainkan karena tidak sempat dicatat.
Sementara itu, diskusi ilustrasi buku pada sore hari akan mempertemukan dunia seni dengan industri kreatif. Festival kemudian ditutup melalui pertunjukan Teater Katasapa Purbalingga yang menunjukkan bahwa literasi tidak hanya hidup di dalam buku, tetapi juga di atas panggung.
Jika ada satu hari yang menggambarkan wajah khas BIL Fest secara utuh, maka Selasa, 16 Juni 2026, layak disebut sebagai puncaknya.
Pagi hari akan dibuka dengan diskusi mengenai tafsir Al-Qur’an bagi generasi muda. Sebuah upaya menjembatani teks keagamaan dengan tantangan kehidupan kontemporer.
Namun perhatian publik kemungkinan besar akan tertuju pada sesi siang hari bertajuk Risalah Ekologis II: Selamet-kan Alam! Nyala Perlawanan Memulai dengan Jalan Pikiran.
Tema ini hadir pada saat dunia sedang menghadapi krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ancaman hilangnya keseimbangan ekologis. Bersama Gilang Inggit Maulana dan Alvin Qodri Lazuardy, peserta akan diajak melihat bahwa persoalan lingkungan sesungguhnya bukan hanya persoalan teknis, melainkan persoalan cara pandang.
Kerusakan alam seringkali berawal dari kerusakan cara berpikir manusia terhadap alam itu sendiri.
Karena itu, perlawanan ekologis tidak selalu dimulai dari demonstrasi besar atau kebijakan negara. Ia dapat dimulai dari kesadaran paling sederhana bahwa manusia bukan pemilik bumi, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang harus dijaga bersama.
Tema ini menjadi salah satu diskusi yang diperkirakan menarik perhatian publik karena menyentuh persoalan yang semakin dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Malam harinya, diskusi mengenai buku Rahasia Salinem akan membawa peserta memasuki ruang yang lebih dalam: trauma, luka, dan sejarah bangsa yang selama ini tersembunyi di balik narasi resmi.
Rangkaian festival kemudian berlanjut pada workshop kepenulisan, pengembangan success skill, literasi keuangan bersama OJK Purwokerto, kisah perjuangan penyintas kanker melalui buku Menghalau Halimun, hingga diskusi filosofis bertajuk Membakar Buku, Membakar Manusia: Ketika Pengetahuan Menjadi Arena Perlawanan.
Tema terakhir ini terasa sangat relevan di tengah dunia yang masih menyaksikan berbagai bentuk pembungkaman pengetahuan. Sejarah menunjukkan bahwa penghancuran buku seringkali menjadi pertanda penghancuran kebebasan berpikir.
Pada penghujung festival, publik juga akan diajak membahas tantangan industri buku digital, pengalaman global bersama AIESEC, hingga refleksi kemanusiaan melalui buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca.
Semua percakapan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yang sama: memperluas cara manusia memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.
Karena itulah BIL Fest bukan sekadar festival literasi. Ia adalah festival gagasan.

Festival yang mempertemukan lingkungan dengan sastra, agama dengan budaya, sejarah dengan masa depan, serta pengetahuan dengan kemanusiaan.
Selama sepuluh hari ke depan, Banyumas tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah festival literasi. Banyumas sedang menunjukkan kepada publik bahwa membaca dunia adalah langkah pertama untuk mengubahnya.
Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, BIL Fest mengingatkan bahwa masa depan sering kali lahir dari satu hal yang sederhana: percakapan yang bermakna dan doa-doa yang terus dipanjatkan. Banyumas Internasional Literasi Festival!
