Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Alfuwisdom Institute
Laut, daratan, hutan, sungai, dan pegunungan; itulah wajah Jawa yang sesungguhnya. Sebuah bentang alam yang selama berabad-abad bukan hanya menjadi tempat hidup manusia, tetapi juga membentuk watak kebudayaannya. Dari gunung mengalir air, dari air tumbuh sawah, dari sawah lahir peradaban. Maka ketika orang berkata bahwa Jawa adalah “kunci”, sesungguhnya yang menjadi kunci bukan semata-mata pusat kekuasaan atau kepadatan penduduknya, melainkan simpul ekologis yang menopang kehidupan jutaan manusia.
Namun, zaman modern sering kali lupa kepada simpul itu. Kita menyaksikan pembangunan berjalan dengan kecepatan luar biasa, sementara alam dipaksa mengikuti irama yang bukan miliknya. Jalan-jalan membentang, industri tumbuh, teknologi melesat, tetapi pada saat yang sama tanah-tanah jauh menjadi korban dari kemajuan yang tidak pernah mereka nikmati sepenuhnya. Litium untuk baterai kendaraan listrik, nikel untuk industri masa depan, pasir untuk pembangunan kota-kota besar; semuanya diambil dari ruang hidup yang perlahan kehilangan haknya untuk tetap menjadi alam.
Di tengah percakapan besar itu, Gunung Slamet berdiri diam. Ia tidak berpidato, tidak mengajukan gugatan, tidak pula mengirimkan siaran pers. Namun, tubuhnya menyimpan banyak pesan. Lereng-lerengnya menahan air hujan, hutannya menjaga udara tetap sejuk, sungai-sungainya menghidupi sawah dan permukiman di kaki gunung hingga jauh ke hilir. Karena itulah setiap ancaman terhadap Slamet sesungguhnya bukan ancaman terhadap sebuah gunung, melainkan ancaman terhadap sistem kehidupan yang bergantung kepadanya.
Tambang pasir ilegal yang terus merayap, pembukaan ruang-ruang ekstraktif yang mengabaikan daya dukung alam, hingga berbagai eksperimen pembangunan yang berkali-kali mengetuk tubuh Slamet atas nama pertumbuhan ekonomi, merupakan tanda bahwa kita sering kali melihat gunung hanya sebagai objek. Kita lupa bahwa gunung adalah subjek ekologis. Ia bukan sekadar sumber daya, melainkan sumber kehidupan.
Di sinilah saya menemukan makna dari tema Niatan Selamet. Ia bukan sekadar permainan kata yang enak didengar. Ia adalah panggilan kesadaran. Sebuah ajakan untuk memulai segala ikhtiar dengan niat menyelamatkan. Menyelamatkan manusia dari kerakusannya, menyelamatkan masyarakat dari kehilangan sumber kehidupannya, dan menyelamatkan alam dari pandangan yang hanya melihat nilai ekonominya semata.
Maka bagi saya, perjumpaan ini adalah ikhtiar untuk menarik kembali apa yang saya sebut sebagai Sumbu Ekologis Gunung Slamet. Jika Yogyakarta dikenal dengan Sumbu Filosofis yang menghubungkan ruang, sejarah, dan makna kebudayaan, maka Banyumas memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: sebuah sumbu ekologis yang menghubungkan gunung, hutan, sungai, sawah, desa, dan manusia dalam satu kesatuan kehidupan.

Lihatlah peta Banyumas dengan lebih saksama. Gunung Slamet berdiri sebagai titik tertinggi sekaligus pusat ekologis yang memancarkan kehidupan ke berbagai arah. Dari tubuhnya mengalir sungai-sungai yang menghidupi kawasan di bawahnya. Dari hutannya lahir keseimbangan iklim lokal. Dari keberadaannya tumbuh identitas sosial dan kebudayaan masyarakat Banyumasan. Ia bukan sekadar latar geografis, melainkan poros yang menggerakkan seluruh ekosistem kehidupan.
Karena itu, ketika agenda literasi ini berlangsung dengan latar Slamet yang menjulang di kejauhan, saya tidak melihatnya sebagai kebetulan. Saya melihatnya sebagai pengingat. Bahwa ilmu pengetahuan harus kembali berpijak pada bumi yang menopangnya. Literasi tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca buku, tetapi juga harus mampu membaca tanda-tanda alam. Bahwa kemajuan harus memiliki arah, dan arah itu adalah keselamatan.
Slamet mengajarkan keteguhan. Ia berdiri jauh sebelum kita lahir dan mungkin akan tetap berdiri setelah kita tiada. Pertanyaannya bukan apakah Slamet membutuhkan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita masih mampu menjaga hubungan yang sehat dengannya. Sebab ketika sumbu ekologis itu putus, yang runtuh bukan hanya bentang alam, tetapi juga masa depan generasi yang akan datang.
Maka mari bergerak. Bukan dengan amarah yang membabi buta, melainkan dengan kesadaran yang jernih. Bukan dengan niatan menguasai, melainkan dengan Niatan Selamet. Sebab menjaga Gunung Slamet pada hakikatnya adalah menjaga Banyumas. Menjaga Banyumas adalah menjaga Jawa. Dan menjaga Jawa adalah menjaga salah satu simpul kehidupan yang menopang Indonesia. []
