Ramadhan selalu datang membawa dua hal sekaligus: kerinduan dan tanggung jawab. Kerinduan karena ia adalah bulan yang membuat manusia ingin kembali menjadi lebih bersih; tanggung jawab karena ia menuntut iman bukan sekadar disimpan di dada, melainkan diterjemahkan menjadi sikap—di rumah, di masjid, di jalan, dan di ruang publik.
Di titik inilah mimbar Jum’at menemukan maknanya. Ia bukan sekadar podium untuk menyampaikan nasihat. Mimbar adalah ruang strategis untuk menyalakan kesadaran, terutama pada bulan Ramadhan ketika hati lebih mudah disentuh dan amal lebih mudah digerakkan. Khutbah menjadi pintu untuk menanamkan nilai: tentang iman, akhlak, tanggung jawab sosial, dan keberpihakan pada kehidupan.
Buku Khutbah Jum’at: Serambi Peradaban Forum (Edisi Ramadhan 1447 H) lahir dari keyakinan sederhana itu. Serambi Peradaban Forum—komunitas literasi yang tumbuh dari pesantren dan bergerak ke ranah publik—menyusun empat naskah khutbah dengan benang merah yang jelas: membangun kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial. Ibadah, dalam cara pandang ini, tidak berhenti pada ritual. Ia harus melahirkan kepedulian.
Khutbah “Ramadhan Memakmurkan Masjid, Memakmurkan Lingkungan” mengingatkan bahwa masjid yang hidup bukan hanya ramai oleh jamaah, tetapi juga melahirkan etika merawat ruang hidup. Kesalehan yang tidak peduli pada lingkungan, pada akhirnya, adalah kesalehan yang rapuh: baik di hadapan krisis iklim maupun di hadapan kerusakan sosial yang ia lahirkan.
Khutbah “Menjaga Iman di Perantauan, Membangun Kesalehan di Kampung Halaman” menegaskan hal lain yang sering dilupakan: iman tidak boleh berubah menjadi aksesoris. Ia mesti tegak di tengah perubahan, dan ia mesti pulang sebagai kebaikan—bukan sekadar cerita sukses. Di sini, kampung halaman bukan hanya tempat kembali secara fisik, tetapi juga akar sosial yang harus ditumbuhkan dengan tanggung jawab moral.
Sementara itu, “Memurnikan Tauhid, Merawat Tradisi” mengajukan gagasan yang relevan di tengah kegaduhan identitas: tauhid yang lurus tidak otomatis memusuhi kearifan lokal. Sebaliknya, ia bisa menjadi energi untuk menjaga tradisi yang baik agar tetap hidup dan bermakna. Tradisi bukan musuh agama, selama ia tidak melawan prinsip. Ia adalah jembatan, bukan jurang.
Puncak refleksi buku ini hadir pada khutbah “Palestina, Genosida, dan Ekosida”. Di sana, tragedi kemanusiaan tidak dibaca hanya sebagai hilangnya nyawa, tetapi juga sebagai hancurnya alam, sejarah, dan masa depan. Genosida dan ekosida berjalan beriringan. Ketika manusia dihancurkan, tanah pun ikut diluluhlantakkan. Ketika rumah-rumah runtuh, pohon-pohon pun ikut mati. Dan ketika satu bangsa dirampas, dunia sesungguhnya sedang diajak bercermin: siapa yang kita bela, dan apa yang kita diamkan.
Keempat khutbah ini disusun bukan semata sebagai teks untuk dibaca, melainkan sebagai pegangan bagi para khatib, pendidik, pegiat dakwah, serta siapa pun yang ingin menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Buku ini menawarkan khutbah yang tidak hanya menenangkan, tetapi juga membangunkan.
Dalam suasana publik yang kerap gaduh oleh polarisasi, khutbah sering jatuh menjadi alat: alat memukul, alat menghakimi, alat mengunci. Buku ini mencoba mengembalikan khutbah ke tempat yang semestinya: sebagai pintu perbaikan diri dan perbaikan bersama. Islam yang menyejukkan, menguatkan, sekaligus menuntut tanggung jawab.
Buku ini tersedia dalam bentuk cetak dengan harga Rp 20.000. Versi PDF dapat diunduh melalui situs alfuwisdom.com (link tersedia). Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 085851179595. Sebuah ikhtiar kecil, dari jalur literasi, untuk menyambut Ramadhan dengan kesadaran yang lebih utuh.
Download di sini!
Khutbah Perlawanan!