Perjuangan para Syuhada’ Pondok Modern Darussalam Gontor adalah ikhtiar peradaban yang mengubah dari nggon kotor menjadi nggon inspirator. Dari Tegalsari-Gontor lama, tumbuh kembali dari benih pendidikan Athfal ditanam, dirawat, lalu tumbuh menjadi pohon kebaikan yang menaungi generasi. Seabad Gontor bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan perjalanan tarbiyah, ta’lim wa ta’dib: menanam adab, meneguhkan ilmu, dan menghidupkan amal untuk melahirkan insan pembawa maslahat bagi umat.
Di ambang fajar, ayam jantan berkokok. Kokoknya bukan sekadar suara yang memecah sunyi, melainkan isyarat kesadaran bahwa malam akan berakhir dan fajar akan menyingsing. Ia menjadi simbol keberanian menyatakan kebenaran bukan membenarkan kenyataan dengan ṣidq, amanah, dan ketulusan.
Ayam jantan tidak menghadirkan cahaya, tetapi membangunkan manusia agar tidak tertinggal ketika cahaya datang, seruan untuk bangkit dari ghaflah menuju kesadaran, dari kelemahan menuju ‘izzah, dan dari kegelapan menuju cahaya kemenangan terang benderang.
Itulah Fajrul Islam—fajr ṣādiq yang memancar dari ufuk peradaban. Fajar yang membawa harapan, ilmu, iman, dan amal; cahaya yang perlahan menyingkap kegelapan dan meruntuhkan kezaliman.
Jika Gontor adalah pohon yang menanam kebaikan, maka ayam jantan adalah suara kebangkitan, dan Fajrul Islam adalah cahaya kemenangan.
Seratus tahun Gontor adalah ikhtiar menyemai kebaikan, fajar menyingsing, menerangi umat dan peradaban- menuju keabadian.
Wa Maa Baqiya’ Ila Allah
Gontor Lama, Tegalsari, Ponorogo. Alvin Qodri Lazuardy. 20 September 2026. Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri 20 September 1926.