{"id":3353,"date":"2026-02-02T15:10:03","date_gmt":"2026-02-02T15:10:03","guid":{"rendered":"https:\/\/alfuwisdom.com\/?p=3353"},"modified":"2026-02-02T15:10:47","modified_gmt":"2026-02-02T15:10:47","slug":"kursus-kemahiran-membaca-dan-menulis-gontor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/alfuwisdom.com\/kursus-kemahiran-membaca-dan-menulis-gontor.html","title":{"rendered":"Tingkatkan Skill Santri!, Kursus Kemahiran Membaca dan Menulis di Gontor: Merawat Tradisi Iqra\u2019 dan Budaya Ilmu Islam"},"content":{"rendered":"<p>Ponorogo \u2014 Di tengah arus informasi yang kian deras dan serba instan, Perpustakaan Darussalam Gontor kembali meneguhkan posisinya sebagai ruang perawatan tradisi keilmuan. Pada Rabu (28\/1\/2026), perpustakaan ini tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, melainkan menjelma sebagai ruang perjumpaan gagasan melalui penyelenggaraan <em>Kursus Kemahiran Membaca dan Menulis<\/em> bertema <em>\u201cMembangun Literasi dengan Pandangan Hidup Islam\u201d<\/em>. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WIB ini diikuti oleh para santri dan pegiat literasi yang memiliki kegelisahan intelektual serupa: bagaimana membaca dan menulis tetap bernilai, beradab, dan berorientasi kebenaran di tengah perubahan zaman.<\/p>\n<p>Kursus ini menghadirkan Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag., M.Pd., Alumni KMI Gontor 2014 yang kini dikenal sebagai penulis dan penggerak literasi di Alfuwisdom Publishing. Dalam paparannya, Alvin tidak langsung berbicara tentang teknik membaca cepat atau kiat menulis populer. Ia justru mengajak peserta kembali ke fondasi paling dasar peradaban literasi: <em>Trivium<\/em>.<\/p>\n<p>Trivium\u2014yang terdiri atas <em>grammar<\/em>, <em>logic<\/em>, dan <em>rhetoric<\/em>\u2014diperkenalkan sebagai kerangka pembentukan nalar manusia agar mampu memahami realitas secara utuh. Grammar dipahami bukan semata tata bahasa, melainkan kemampuan mengenali simbol, struktur, dan makna bahasa. Logic berfungsi sebagai perangkat menimbang, menguji, dan menyusun kebenaran secara rasional. Sementara rhetoric menjadi seni menyampaikan gagasan secara tepat, bertanggung jawab, dan beradab. Dalam pandangan Alvin, ketiga unsur ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam proses membaca dan menulis yang bermakna.<\/p>\n<p>\u201cTanpa fondasi Trivium, literasi mudah terjebak pada konsumsi teks semata. Membaca hanya menjadi aktivitas pasif, bukan proses pencarian makna yang berujung pada kesadaran,\u201d ungkapnya di hadapan peserta.<\/p>\n<p>Dari fondasi tersebut, pembahasan kemudian diarahkan pada bingkai yang lebih luas, yakni pandangan hidup Islam (<em>ru\u2019yat al-Isl\u0101m li al-wuj\u016bd<\/em>). Alvin menegaskan bahwa dalam Islam, membaca dan menulis tidak pernah netral nilai. Ia terikat pada tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah. Oleh karena itu, literasi menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis; ia membutuhkan <em>al-mah\u0101r\u0101t al-fanniyyah<\/em>\u2014keterampilan seni membaca dan menulis\u2014yang dijalani sebagai bagian dari amanah ilmu (<em>am\u0101nat al-\u2018ilm<\/em>).<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, membaca bukan hanya aktivitas mata yang menyusuri baris teks, tetapi kerja akal dan jiwa untuk menangkap makna yang benar. Menulis pun tidak sekadar memindahkan gagasan ke dalam kata, melainkan proses pertanggungjawaban intelektual atas pengetahuan yang diperoleh. \u201cKemahiran membaca dan menulis adalah pintu masuk bagi <em>ta\u1e25q\u012bq al-\u2018ilm<\/em>, pengilmuan yang benar. Agar makna tidak berhenti di teks, tetapi sampai ke dalam jiwa,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia kemudian merujuk pada konsep klasik dalam khazanah intelektual Islam, yakni <em>\u1e25u\u1e63\u016bl al-ma\u2018n\u0101 f\u012b al-nafs<\/em> (sampainya makna ke dalam jiwa) dan <em>wu\u1e63\u016bl al-nafs il\u0101 al-ma\u2018n\u0101<\/em> (sampainya jiwa kepada makna). Dua konsep ini menjadi penanda bahwa literasi sejati bersifat hidup dan transformatif. Membaca dan menulis yang demikian tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi membentuk sikap, cara pandang, dan kepekaan moral\u2014sebuah laku yang oleh Alvin disebut sebagai <em>Living Literacy<\/em>.<\/p>\n<p>Kursus ini, dengan demikian, diposisikan sebagai ikhtiar merawat tradisi <em>Iqra\u2019<\/em>\u2014perintah peradaban yang sejak awal meniscayakan keterpaduan antara ilmu, iman, dan adab (<em>al-\u2018ilm wa al-\u012bm\u0101n wa al-adab<\/em>). Dalam kerangka ini, literasi berfungsi sebagai sarana <em>ta\u2019d\u012bb<\/em>, pembentukan manusia beradab, agar ilmu tidak tercerabut dari orientasi kebenaran dan kemaslahatan.<\/p>\n<p>Melalui forum yang berlangsung dalam suasana dialogis ini, para peserta diajak menyadari bahwa budaya ilmu tidak mungkin tumbuh dari kebiasaan membaca dan menulis yang serba instan. Ia hanya dapat hidup jika literasi dijalani sebagai <em>\u2018ib\u0101dah \u2018aqliyyah<\/em>\u2014ibadah intelektual\u2014yang menghubungkan teks dengan konteks, serta pengetahuan dengan tanggung jawab moral. Membaca menjadi jalan tafakkur, dan menulis menjadi medium kesaksian intelektual atas kebenaran yang diyakini.<\/p>\n<p>Akhirnya, kursus ini menegaskan satu pesan penting: kemahiran membaca dan menulis santri bukan semata ditujukan untuk produktivitas akademik, tetapi untuk menumbuhkan kepribadian intelektual yang utuh. Sebuah pribadi yang berpijak pada fondasi Trivium, berakar pada pandangan hidup Islam, dan berbuah pada adab. Di ruang sunyi perpustakaan itulah, tradisi Iqra\u2019 dirawat\u2014bukan sebagai slogan, melainkan sebagai laku peradaban yang terus dihidupkan.<\/p>\n<p><em>(Media Alfuwisdom Institute)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4078\" data-end=\"4470\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-3355\" src=\"https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-800x533.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-800x533.jpeg 800w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-1160x773.jpeg 1160w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-120x80.jpeg 120w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-90x60.jpeg 90w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-320x213.jpeg 320w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48-560x373.jpeg 560w, https:\/\/alfuwisdom.com\/risetringan-uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-09.26.48.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4472\" data-end=\"4502\"><em data-start=\"4472\" data-end=\"4502\">(Media Alfuwisdom Institute)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ponorogo \u2014 Di tengah arus informasi yang kian deras dan serba instan, Perpustakaan Darussalam Gontor kembali meneguhkan posisinya sebagai ruang perawatan tradisi keilmuan. Pada Rabu (28\/1\/2026), perpustakaan ini tidak sekadar&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3354,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"iawp_total_views":49,"footnotes":""},"categories":[7,98],"tags":[748,700,749,750],"powerkit_post_featured":[5,3],"class_list":{"0":"post-3353","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-islamic-studies","8":"category-reportase","9":"tag-kemahiran","10":"tag-membaca","11":"tag-menulis","12":"tag-trivium"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=3353"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3357,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3353\/revisions\/3357"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/3354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=3353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=3353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=3353"},{"taxonomy":"powerkit_post_featured","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/powerkit_post_featured?post=3353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}