{"id":3310,"date":"2025-07-04T09:30:32","date_gmt":"2025-07-04T09:30:32","guid":{"rendered":"https:\/\/alfuwisdom.com\/?p=3310"},"modified":"2025-07-04T09:51:45","modified_gmt":"2025-07-04T09:51:45","slug":"resensi-buku-meraih-kebahagiaan-karya-fadil-mustopa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/alfuwisdom.com\/resensi-buku-meraih-kebahagiaan-karya-fadil-mustopa.html","title":{"rendered":"Resensi Buku: Meraih Kebahagiaan karya Fadil Mustopa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Resensi Buku: Meraih Kebahagiaan karya Fadil Mustopa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin bising oleh kecemasan, hadir sebuah buku yang sunyi namun menggetarkan: <em>Meraih Kebahagiaan: Renungan Tasawuf, Pendidikan, dan Dakwah karya Ustaz Fadil Mustopa.<\/em> Sebuah karya yang bukan sekadar buku, melainkan <strong>legasi<\/strong> spiritual dan intelektual dari seorang tokoh Muhammadiyah Balapulang yang menulisnya di usia 58 tahun\u2014usia yang bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat, namun bagi beliau adalah waktu untuk menabur makna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buku ini seperti segelas kopi pekat yang menemani pagi hening: tidak untuk ditenggak dalam satu tegukan, tapi untuk dinikmati perlahan. Dengan gaya bahasa yang lembut namun tegas, Fadil Mustopa mengajak kita merenung tentang kebahagiaan yang bukan hanya milik duniawi, tetapi buah dari laku tasawuf, kesungguhan dalam mendidik, dan keikhlasan dalam berdakwah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sebuah Tafakur Literasi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cMenulis adalah merawat warisan jiwa.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah napas yang terasa sejak halaman pertama buku ini dibuka. Fadil Mustopa tidak hanya menyusun kata; ia membangun jembatan antara kehidupan modern yang lelah dengan sumber air jernih dari tasawuf. Buku ini menjadi bukti bahwa literasi bukanlah hobi kaum muda semata, tetapi warisan para sesepuh yang memeluk pena dengan cinta dan tanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Epilog yang ditulis Alvin Qodri Lazuardy, tersirat dengan terang bahwa buku ini tidak hanya mengajarkan \u201capa\u201d dan \u201cbagaimana\u201d dalam Islam, tetapi terutama \u201cmengapa\u201d\u2014mengapa kita perlu hidup sadar, mengapa kita perlu mencintai ilmu, mengapa kebahagiaan sejati terletak pada kesadaran akan Allah dan kasih sayang kepada sesama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tiga Pilar: Tasawuf, Pendidikan, Dakwah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada tiga pilar besar yang menopang bangunan narasi buku ini:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Tasawuf\u2013 bukan semata ajaran menjauh dari dunia, melainkan seni mengendapkan kegelisahan dalam batin dan mengukuhkan hubungan dengan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Pendidikan \u2013 dilihat bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, tapi juga penanaman nilai, pembentukan karakter, dan pengasuhan jiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Dakwah \u2013 yang tidak melulu dalam bentuk ceramah lantang, tetapi dakwah yang penuh hikmah, empati, dan cinta kasih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui pilar-pilar itu, pembaca seperti diajak kembali menyusun ulang prioritas hidup, menyadari bahwa bahagia bukanlah tempat tujuan, tapi cara berjalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Spesifikasi Buku<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: left;\">Judul: Meraih Kebahagiaan: Renungan Tasawuf, Pendidikan, &amp; Dakwah<\/li>\n<li style=\"text-align: left;\">Penulis: Fadil Mustopa<\/li>\n<li style=\"text-align: left;\">Penyunting: Viki Adi Nugroho &amp; Alvin Qodri Lazuardy<\/li>\n<li style=\"text-align: left;\">Desain Sampul &amp; Layout: Van Art<br \/>\nJumlah halaman: viii + 113 halaman<br \/>\nUkuran: 14 x 20 cm<br \/>\nISBN: 978-623-6579-80-0<br \/>\nCetakan Pertama: Maret 2025<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sebuah Momentum di Balapulang<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bedah buku ini yang akan dilangsungkan bersamaan dengan Musyawarah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Balapulang pada Ahad, 6 Juli 2025, menjadi momentum istimewa. Ini bukan sekadar acara peluncuran buku, melainkan perayaan atas kesinambungan tradisi literasi dalam tubuh gerakan Islam modernis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah buku ini menampakkan kekuatannya sebagai &#8220;kitab kecil&#8221; yang bisa menjadi bahan pengajian, refleksi harian, hingga inspirasi gerakan dakwah berbasis nilai-nilai spiritual yang lembut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penutup: Kebahagiaan adalah Jalan Pulang<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKebahagiaan bukanlah sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang dihayati dan dibagikan.\u201d<\/em><strong> (Alvin Qodri Lazuardy)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Resensi ini ingin menegaskan bahwa *Meraih Kebahagiaan* adalah karya langka yang lahir dari keheningan, dituangkan oleh tangan yang matang secara spiritual, dan diarahkan untuk hati yang rindu akan makna. Ia adalah sumbangan pemikiran yang relevan dan mengalir tenang seperti sungai tasawuf yang selalu menuju laut ketenangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi siapa pun yang membaca, buku ini adalah undangan untuk pulang\u2014pulang ke dalam diri, ke dalam makna, dan ke dalam kebahagiaan sejati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&gt; <strong>Untuk pemesanan buku hubungi via WhatsApp: 081329831533<\/strong><br \/>\n<strong>Harga Buku: 45.000,<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>&gt; Bedah buku: Ahad, 6 Juli 2025 \u2013 Selepas MUSPIMCAB Muhammadiyah Balapulang. Di rumah Makan Gilar-Gilar.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Resensi Buku: Meraih Kebahagiaan karya Fadil Mustopa Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin bising oleh kecemasan, hadir sebuah buku yang sunyi namun menggetarkan: Meraih Kebahagiaan: Renungan Tasawuf, Pendidikan, dan Dakwah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3311,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"iawp_total_views":18,"footnotes":""},"categories":[683,137],"tags":[704,734,733,109,56],"powerkit_post_featured":[5,3],"class_list":{"0":"post-3310","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-penerbitan-buku","8":"category-resensi-buku","9":"tag-bedah-buku","10":"tag-buku-baru","11":"tag-resensi","12":"tag-resensi-buku","13":"tag-tasawuf"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=3310"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3310\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3314,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3310\/revisions\/3314"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/3311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=3310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=3310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=3310"},{"taxonomy":"powerkit_post_featured","embeddable":true,"href":"https:\/\/alfuwisdom.com\/api-json\/wp\/v2\/powerkit_post_featured?post=3310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}